Travelling ke Bromo Secara Mandiri, Tanpa Ikutan Open Trip

Tiap tahun ribuan orang dari seluruh dunia datang ke Bromo. Agenda mereka hampir sama, melihat sunrise di Bromo. Emang Bromo dan kawasan Tengger Semeru ini sangat istimewa. Dia punya magnet kuat yang membuat ribuan orang rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk sekedar datang ke Bromo dan menikmati pesonanya.

Aku pun tertarik magnet Bromo. Bulan Maret ini aku memutuskan untuk kembali ke Bromo. Kali ini aku cuma travelling berdua. Bermodal pengalaman travelling ke Bromo sebelumnya, kami pergi ke Bromo bermodalkan tiket kereta ke Probolinggo. Kami memutuskan untuk travelling mandiri, tanpa ikutan open trip dan sejenisnya. Alasannya sederhana, kami ingin bebas dan nggak terikat. Tapi yaa,,, tentu saja ada tantangannya kan.

Sebelumnya, ijinkan aku bercerita tentang pengalaman paket wisata bromo sebelumnya. Nggak cuma sekali, dua kali, tapi berkali-kali aku rela balik lagi ke Bromo. Perjumpaan pertama kaliku dengan Bromo ketika aku masih sangat kecil. Waktu itu aku belum paham lihat sunrise di gunung. Yang aku ingat saat itu aku kedinginan. Saking dinginnya, badanku rasanya pegel semua, kalo mangap dari mulut keluar asap. Aku bahagia banget ketika matahari datang. Bukan karena lihat pemandangan spektakuler macam jepretan fotografer profesional, tapi karena ketika matahari muncul, udara perlahan-lahan menghangat.
“Kadang kita lupa bersyukur sudah diberi sinar matahari melimpah tiap hari, sepanjang tahun. Coba deh inget-inget masa di mana kamu kedinginan dan nggak ada sinar matahari. Hal sesederhana sinar matahari bisa jadi barang mewah.”
Perjumpaan dengan Bromo selanjutnya, aku udah paham mau ngapain ke Bromo. Kali ini udah bisa travelling sendiri, nggak sama ortu. Selain agenda lihat sunrise dari Penanjakan Sunrise Point Bromo, naik ke kawah Bromo, naik jeep, dan seru-seruan di pasir berbisik dan padang savana, tentu saja ada agenda kangen-kangenan dengan travelmate kesayangan. Bahkan kami rela berbagai satu jeep untuk 8 orang. Lumayan empet-empetan dan engep di dalam, tapi tetep happy karena maen sama travelmate yang asik.
Masa-masa bahagia di mana open trip belum menjamur seperti sekarang, kami janjian untuk share cost. Kami menghitung semua pengeluaran kami untuk backpacking ke Bromo, kemudian dibagi rata. Nggak ada tuh yang dapet keuntungan. Ngurus ini itu-nya juga barengan sih. Hasilnya, biaya yang kami keluarkan untuk liburan ke Bromo sangat murah

Leave a Comment